Slide 1 Slide 2 Slide 3 Slide 4 Slide 5
Diposting oleh Rizka Novia | 0 komentar
Read more...
Diposting oleh Rizka Novia | 1 komentar

Rezeki itu dari Allah, Tapi Tetaplah Berikhtiar




Semua rezeki yang ada, itu berasal dari Allah, karena Allah adalah Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki). Ada orang yang berusaha keras, siang dan malam, pagi dia keluar lebih awal dan pulang di senja belakangan, tapi rezekinya juga tidak seberapa banyak. Di sisi lain ada juga yang kelihatannya biasa-biasa saja, bahkan mungkin tidak berbuat banyak untuk mendapatkan rezeki, tapi ia malah bertaburan dengan rezeki.

Apa yang salah? Sebenarnya tak ada yang salah. Karena rezeki itu datangnya dari Allah. Dan, Allah memberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Namun, sebagai manusia yang diberikan akal budi, kita tetaplah harus berikhtiar, berusaha untuk mendapatkan rezeki itu. Terlepas nanti apakah rezeki kita banyak atau tidak, itu dikembalikan kepada Allah. Tugas kita sebagai manusia adalah berikhtiar. “Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita adalah untuk mencoba, karena di dalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil,” demikian kata motivator “The Golden Ways” Mario Teguh. Bangun pagi-pagi, kita berusaha, bertindak profesional, itu penting sekali untuk mengundang datangnya rezeki.

Di dalam al-Qur’an, Allah menjelaskan tentang kisah mereka yang tidak terlalu “berkeras-keras amat” dalam mencari rezeki, tapi mereka mendapatkannya. Kasih ini tentang Nabi Musa dan Khidir yang terkait dengan simpanan harta yang dimiliki oleh dua anak yatim di tengah penduduk yang pelit.

Dalam surat al-Kahfi ayat 82, Allah swt., berfirman,

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلاَمَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنزٌ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن يَبْلُغَآ أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنزَهُمَا رَحْمَةً مِن رَّبِّكَ وَمَافَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ذَلِكَ تَأْوِيلُ مَالَمْ تَسْطِعْ عَّلَيْهِ صَبْرًا 

"Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak muda yang yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedangkan ayahnya seorang yang shaleh, maka Tuhanmu menghendaki agar mereka sampai kepada kedewasaannya, dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu, dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya."

Harta simpanan orang saleh tersebut berada di sebuah kota, di mana penduduknya sangat kikir, dan tidak mau memberi makan terhadap Nabi Musa as., dan Nabi Khidhir as., sementara bangunan yang di bawahnya terdapat sebuah simpanan harta benda yang hampir roboh. Kemudian Nabi Khidhir as., membangunnya kembali, sehingga bangunan itu tidak roboh, kecuali setelah kedua anak itu dewasa dan dapat menjaga harta simpanan itu dengan sebaik-baiknya.

Nabi Khidhir membangun sebuah bangunan dengan tanpa mengharapkan ongkos dan upah sama sekali, atas perintah Allah swt., agar harta simpanan kedua anak itu dapat terjaga dengan baik. Harta simpanan itu sendiri merupakan rezeki bagi orang-orang miskin yang berada di tengah-tengah penduduk yang kikir itu.

Kisah yang dipetik dari al-Qur’an itu memberi kejelasan bagi kita, bahwa usaha itu bukanlah penyebab datangnya rezeki. Karena sebuah sebab dapat memberikan nilai terhadap musabab. Kita dapat menyaksikan al-Qur’an menceritakan kisah tersebut, kemudian diperkuat dengan kejadian-kejadian yang terpampang di depan mata kita, bahwa ada orang yang tidak berusaha, namun dia mendapatkan rezeki. Maka hal ini dapat memperkokoh keyakinan kita, bahwa usaha itu bukanlah penyebab datangnya rezeki. Namun dapat kita katakan, bahwa usaha itu merupakan keadaan dan hiasan serta pembungkus yang dapat memberikan nilai tersendiri terhadap rezeki. Sebab rezeki itu sendiri tidak datang dari usaha kita semata-mata.

Rezeki merupakan cakupan keagungan Allah swt., Kita lihat bahwa rezeki itu tidak datang dengan adanya usaha kita, dan dia juga tidak hilang dengan keinginan kita. "Barangsiapa yang memperhatikan perjalanan sunnatullah,” kata Al-Ghazali, “maka dia akan mengetahui bahwa rezeki itu datang bukanlah disebabkan oleh adanya usaha.”

Al-Ghazali yang juga menulis kitab monumental Ihya’ Ulumuddin itu menulis bahwa pada suatu hari, datanglah seorang yang telah kehilangan semangat kepada seorang hakim, lantas menanyakan tentang mengapa ada seorang yang bodoh, namun dia mendapatkan rezeki yang layak, sedangkan di sisi lain, ada seorang yang mempunyai otak cemerlang, namun tidak mendapatkan rezeki yang layak.

Mendengar pertanyaan itu, sang hakim menjawab sebagai berikut,

"Jika setiap orang yang mempunyai otak cemerlang mendapat rezeki yang layak, dan setiap orang yang bodoh tidak mendapatkan rezeki yang layak, maka akan timbul sebuah asumsi, bahwa seorang yang mempunyai otak cemerlang dapat memberikan rezeki terhadap temannya. Akibatnya, setelah orang lain tahu dan berpandangan bahwa yang dapat memberikan rezeki itu adalah temannya sendiri, maka tidak ada artinya usaha yang mereka lakukan untuk mendapatkan rezeki tersebut."


Jadi, kita haruslah yakin bahwa ikhtiar itu bukan penyebab datangnya rezeki, tapi rezeki itu datangnya dari Allah. Untuk mendapatkan rezeki, maka berusaha itu juga penting. Selagi tubuh kita masih sehat, kuat, maka berusaha keras itu penting sekali. Bangun lebih dan berusaha pada bidang yang kita minati, tentu itu akan memudahkan kita meraih rezeki
Read more...
Diposting oleh Rizka Novia | 1 komentar

Rejeki Tidak Akan Datang Terlambat Kalau Sudah Pada Waktunya

Kalau kita berbicara ”rejeki” rasanya tidak ada hal yang lebih penting kecuali harus ada usaha itu sendiri sebagai bentuk sikap yang akan menjadi bagian dari sebuah jalan ikhtiar. Rasanya tidak ada hal yang mudah buat orang-orang yang terbiasa dengan sifat malasnya. mungkin dari situlah ada sedikit makna pesan dari Allah bahwa rejeki itu harus di cari, karena sesungguhnya Allah swt akan senantiasa menaburkan rejekinya ke seluruh penjuru bumi. di sadari atau tersadarkan adakalanya rejeki juga bisa datang dengan tiba tiba sesuai dengan kehendak yang di atas.


Cerita dari korelasi antara ikhlas dan sebuah rejeki itu berawal dari saya yang hendak keluar dari salah satu Bank Mandiri. yang pada saat itu masih ada di beranda tepat sebelum tangga menuju pintu keluar yang langsung di hadapkan dengan banyak motor yang sudah terparkir. mungkin karena buru buru berangkat dari rumah sampai sampai saya lupa buat sekedar bawa duit recehan untuk biaya ongkos parkir. Saya pikir kalaupun bayar pakai duit seratus ribu juga mungkin tukang parkir tidak mau di bikin ribet dengan menghitung uang kembalianya yang notabene harus sibuk mengatur keluar masuknya motor lain. Atau juga mungkin tidak ada uang kembalianya. Bukanya mau memandang rendah dengan isi kantong bapak tersebut, tapi ini adalah relita nyata yang sudah banyak di temui buat ukuran seorang tukang parkir. untuk tidak mengurangi rasa hormat dan jasa beliau sebagai seorang tukang parkir, langsung saja saya punya inisiatif untuk berusaha menyodorkan uang tersebut.

”uangnya adanya yang kaya gini pak, ada kembalianya gak pak?”.
langsung tanya saya sambil mengeluarkan isi dompet.

”waduh belum ada mas”. Jawab beliau dengan menggelengkan kepalanya sembari menampilkan wajah yang sama sekali tidak merasakan kecewa sedikitpun.

”Soalnya gak ada lagi pak, kalau ke warung dulu buat mecahin duit gimana ya?”. tanya saya sambil tengok kanan kiri nyari warung terdekat.

”Udah aja mas gak papa” jawab beliau dengan ikhlasnya sambil membuka ruang untuk jalan keluar motor saya.

Karena di situ ada banyak motor yang terparkir sayapun di tuntut lebih berhati hati untuk mengeluarkan motor keluar dari deretan jalur parkir satu. Yang Kebetulan di jalur parkir dua ada motor lagi yang di kendarai oleh dua ibu muda yang mau hendak keluar juga. karena sama sama mau keluar dengan lajur jalan yang sama, sayapun mendengar jelas pembicaraan antara tukang parkir tersebut dengan seorang ibu muda tadi.

”Ini bu kembalianya”. Mungkin itulah pembicaraan pertama seorang bapak tadi setelah sibuk mencari uang recehan di kantong bajunya.

”udah gak papa kembalianya buat bapak aja”. Jawab ibu muda tersebut sambil sibuk menuntun motornya.


__


Itulah sedikit gambaran yang pernah di alami oleh seorang tukang parkir yang kebetulan dari proses kejadian itu sendiri sudah melibatkan saya sebagai orang yang merasa di untungkan. Di satu sisi beliau (tukang parkir) sangat ikhlas karena mungkin punya pemikiran yang memang belum jalan rejekinya buat beliau sendiri. Tapi di sisi lain__ mungkin karena keikhlasanya__ di waktu dan tempat yang hampir bersamaan beliau juga akhirnya sudah mendapatkan rejeki yang tidak di duga duga sebelumnya.

Dari sekelumit cerita yang saya kisahkan melalui tulisan sederhana ini pada dasarnya mungkin terdengar tidak punya pesan. Atau kira kira tidak terlalu penting buat di baca. tapi saya mencoba berusaha berpikir dengan sebijak mungkin karena kalau sedikit mencomot dari kamus hidup; konon semut berbaris baris juga katanya akan punya pesan dan makna buat kehidupan kita sebagai manusia yang mau berpikir. Sekali lagi untuk yang mau berpikir. kita di tuntut untuk bisa mengambil pesan dari semua kejadian baik itu, bahkan dari sesuatu yang tidak baik sekalipun. Karena semua pasti akan ada hikmahnya.

Dari situlah saya juga lebih percaya lagi dengan apa yang sudah di alami oleh kisah seorang tukang parkir tersebut bahwasanya rejeki tidak akan datang terlambat kalau sudah pada waktunya. Dari yang tadinya bapak tadi akan ketiban rejeki dengan keharusan saya untuk membayar biaya parkir, dengan keikhlasan bapak tadi, sayapun di ijinkan pulang tanpa harus membayarnya lebih dulu. Nah dari situ berkat keikhlasanya yang mungkin sudah di dengar Oleh Allah swt, seperti tidak di duga dari sebelumnya kalau bapak tersebut yang pada waktu itu juga pada akhirnya mendapatkan imbalan rejeki berlipat dari Allah lewat peran seorang ibu muda tadi. Besar ataupun kecil rejeki tersebut, sesungguhnya akan jauh terlihat lebih besar kalau kita bener bener ikhlas mensyukurinya. sebaliknya besar atau kecil rejeki tersebut, jelas akan merasa sangatlah kecil atau kurang jika saja kita tidak ada usaha untuk selalu mensyukurinya.

Porsi dari kebutuhan manusia itu berbeda beda. Menurut saya pribadi, Hanya perasaan ikhlas dan bersyukur yang bisa mendefinisikan besar kecilnya sebuah rejeki.



Read more...